
PARIS – Petinggi F1 akan mengkaji ulang penggunaan DRS (Drag Reduction System) di GP Monaco pada 26 Mei mendatang. Langkah ini diambil demi keselamatan para pembalap. Perlu diketahui, terobosan DRS di musim ini dianggap sebagai cara untuk meningkatkan iklim rivalitas anatar pembalap.
Bahkan, pembalap Mercedes GP, Nico Rosberg mengklaim, bahwa DRS merupakan teknologi yang berhasil meningkatkan pamor gelaran jet darat di mata Internasional. Namun, sejumlah kalangan menilai inovasi ini bisa menjadi bumerang bagi para pembalap saat memacu mobilnya di trek dengan karakteristik seperti Monaco.
Terlebih, di Monaco tidak terdapat trek lurus yang cukup untuk mengativasi DRS dengan efektif. Situasi ini jelas menimbulkan resiko bagi para pembalap jika harus memaksa menggunakan DRS di trek sempit dengan banyak tikungan tajam saat mencoba menyalip mobil di depannya.
Meski belum ada keputusan akhir mengenai wacana ini, seorang sumber di Autosport, Minggu (24/4/2011) melaporkan petinggi Federasi Otomotif Internasional (FIA) dan F1 sedang mempertimbangkan opsi untuk tidak menginzinkan penggunaan DRS di Monaco.
Padahal, DRS sendiri memainkan peranan penting untuk menciptakan balapan yang tidak membosankan seperti disampaikan Rosberg. “F1 telah melakukan pekerjaanya dengan brillian. Bagaimana membuat balapan yang menarik, mereka sangat fantasis,” seru rekan satu tim Michael Schumacher itu.
“Tidak ada orang yang mengatakan, balapan tidak akan berlangsung membosankan. Sekarang, Anda bisa menyalip dari kanan, kiri, tengah, di mana saja. Jadi, mereka benar-benar melakukan pekerjaan dengan baik dan ini hal terpenting yang perlu disorot,” sambung pembalap belia asal Jerman tersebut.
“Orang-orang yang bertanggung jawab telah membuat olahraga ini lebih menarik setiap tahun. Sayap belakang, mungkin ide yang terbaik dalam olahraga ini. Begitu juga dengan ban Pirelli, banyak yang mengkritik mereka (Pirelli) tapi mereka membuat olahraga ini menjadi lebih spektakuler,” tuntas Rosberg.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar